Tampilkan postingan dengan label SPK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 November 2012

Published Selasa, November 13, 2012 by with 0 comment

Sistem pendukung keputusan (SPK)

1. Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan merupakan tindakan atau rangkaian tindakan yang harus diikuti untuk memecahkan suatu masalah.
Jenis-jenis keputusan menurut Simon; 
Menurut simon Keputusan merupakan bagian dari suatu rangkean proses pengambilan keputusan
  1. Keputusan yang terseruktur atau yang terprogram berasal dari permasalahan dan kejadian-kejadian yang terseruktur
  2. Keputusan yang tidak terseruktur atau terprogram berasal dari permasalahan atau kejadian yang tidak tersruktur.

2. Konsep pendukung keputusan (SPK)

Konsep simon tentang tahap-tahap pengambilan keputusan digunakan untuk menentukan struktur masalah seperti di bawah ini;
  1. Masalah terseruktur merupakan masalah yang memiliki struktur yang ketiga tahap pertama modal simon, yaitu tahap intelejen, perancangan, dan pemilihan.
  2. Masalah tidak terseruktur merupakan masalah yang sama sekali tidak memiliki strukut pada salah satu tahapan proses pengambilan keutusan simon.
  3. Masalah semi terstruktur merupakan masalah yang dapat menggunakan satu atau dua tahapan simon.

3. Ciri dan pendukung keputusan.

Ciri dari SPK;
  1. SPK memberi pendukung informasi kepada pengambilan keputusan
  2. Dukungan SPK diberikan untuk berbagai yingkatan manajemen
  3. Dukungan selain memberikan kepada individu juga juga kepada kelompok
  4. SPK mendukung keputusan yang independen
  5. SPK memberikan dukungan terhadap semua tingkatan
  6. SPK selalu menyesuaikan diri terhadap keadaan
  7. SPK harus mudah untuk dioprasikan 
  8. Tujuan SPK meningkatkan efesien pengambilan keputusan
  9. Pengambilan keputusan memeliki kendali yang lengkap untuk semua tingkat prosespengambilan keputusan
  10. SPK menarik minat belajar
  11. SPK relatif harus mudah untuk di buat
  12. SPK biasanya menggunakan model
  13. SPK tingkat lanjut menangpung komponen knowledge (pengetahuan)

Jenis-jenis SPK menurut Alter

  1. Mengambil elemen elemen informasi 
  2. Menganalisis file 
  3. Menyiapkan laporan dari berbagai file 
  4. Memperkirakan akibat keputusan 
  5. Mengusulkan keputusan 
  6. Membuat keputusan

Tingkat dukungan terhadap pemecahan masalah sederhana tingkat kerumitan sistem perencanaan masalah komplek

Tujuan SPK 

  1. Dapat membantu manajer dalam membuat keputusan saat memecahkan berbagai masalah semiterseruktur
  2. Dapat mendukung penilaian yang dilakukan oleh manajer dan tidak mencoba menggantikannya.
  3. Dapat meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer dan bukan meningkatkan efesiensinya.

4. Model sistem pendukung keputusan

Isi database digunakan oleh tiga sub sistem software (perngkay lunak) :
  1. Perangkat lunak pembuatan laporan yaitu menghasilkan laporan periodik maupun khusus
  2. Model matematik –model ini akan menghasilkan informasi dalam bentuk simulasi yang dilibatkan satu atau lebih aspek operasi dari subsistem perusahaan
  3. Perangkat lunak – perangkat lunak ini memungkinkan beberapa pihak yang terlibat dalam pemecahan masalah untuk bekerjasama sebagai satu kelompok untuk mendapatkan satu solusi.

5. Laporan periodik dan khusus

Dua jenis laporan tersebut :
  1. Laporan periodik dipersiapkan sesuai dengan jawal pada saat tertentu
  2. Laporan khusus dipersiapkan tiba-tiba ketika sesuatu yang tidak diperkirakan sebelumnya terjadi.
Memadukan perbedaan kedalam laporan Empat cara mengelola perbedaan :
  1. Menyiapkan laporan hanya jika suatu yang tidak diharapkan terjadi
  2. Menggunakan urutan laporan untuk menyoroti perbedaan yang muncul
  3. Mengelompokan perbedaan bersama-sama
  4. Menunjukan varians model dari yang normal

6. Pembuatan matematika

Model matematik merupakan jenis informasi yang berperan penting dalam SPK.

1. Model statis atau dinamis

  1. Model statis tidak menyertakan waktu sebagai variabel
  2. Model dinamis merupakan model yang menyertakan waktu sebagai variabel.

2. Model propabilitas atau deterministik

  1. Model probabilistik adalah model yang menggambarkan probabilitas
  2. Model domestik adalah model yang menggambarkan sesuatu yang pasti

3. Model optimisasi atau suboptimisasi

  1. Model optimisasi adalah model yang menunjukan solusi terbaik dari dari berbagai alternatif sulusi yang tersedi
  2. Model suboptimisasi adalah model yang mungkin seeorang manajer untuk memesukan serangkaian keputusan dan model akan mengproyeksikan hasilnya.

7. Model Simulasi

Simulasi merupakan model yang bergerak.simulasi memperkirakan danpak dari keputusan yang diambil oleh pengambil keputusan.

proses-simulasi-sistem-penunjang-keputusan
Gambar : Proses simulasi istem penunjang keputusan

1. Membuat model untuk skenario

Istilah sekenario digunakan untuk menjelaskan suatu kondisi yang menentukan bagaimana simulasi harus bekeja

2. Variabel keputusan

Nilai-nilai atau perameter imput yang dimasukan oleh seorang manajer untuk mengukur dampaknya terhadap suatu entitas disebut sebagai variabel keputusan

3. Teknik simulasi


4. Format Output Simulasi 

Merupakan suatu praktek yang baik untuk meyertakan elemen-elemen skenario.


8. Sistem pendukung keputusan kelompok

1. Konsep sistem pendukung keputusan kelompok (SPKK)

Merupakan suatu sistem berbasik komputer yang mendukung tugas yang dilakukan bersama oleh sekelompok orang dengan menyediakan beberapa terminal yang digunakan bersama.

2. Bagaimana SPKK memberikan kontribusi dalam pemecahan masalah

Asumsi yang menyadari teealisasinya SPKK adalah adanya komunikasi yang baik sehingga memungkinkan terjadinya keputusan yang baik.

3. Mengukur lingkungan SPKK

SPKK terfokos kepada pemecahan masalah dngan memberikan aturan-aturan yang mendukung terselenggaranya komunikasi yang lebih baik.

4. Peranan SPK dalam pemecahan masalah

Bahwa sistam informasi manajemen sangat cocok untuk mengidentifikasi masalah dan membantu manajer memahaminya.SPK dapat memperluas dukungan ini melalui langkah-langkah selanjutnya dalam proses pemecahan masalah.kemampuan tambahan ini bukan karena peralatan yangdigunakan, karna SIM dan SPK keduanya mempunyai peralatan-peralatan yang sama.
Read More
Published Selasa, November 13, 2012 by with 0 comment

SPK : Perbedaan Pengetahuan Tacit dan Eksplisit

a. Pengetahuan Tacit 

  1. Tersimpan dalam pikiran manusia, sulit diformulasikan (misalnyakeahlian seseorang) 
  2. Penting untuk kreatifitas dan inovasi 
  3. Dikonversikan ke eksplisit dengan eksternalisasi 
  4. Misalnya pengalaman bertahun-tahun yang dimiliki oleh ahli 
Pengetahuan tacit sifatnya sangat personal, sulit diformulasikan sehingga sulit dikomunikasikan dan disebarkan kepada orang lain. Tacit Knowledge, merupakan bentuk pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran manusia. Misalnya gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya. 

b. Pengetahuan Explisit 

  1. Dapat dikodifikasi/formulasi 
  2. Dikonversikan ke tacit dengan pemahaman dan penyerapan 
  3. Misalnya dokumen, database, materi audio visual dll 
Pengetahuan eksplisit dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual. Sehingga dapat dikatakan bahwa Explicit Knowledge merupakan bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/ terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh manual, buku, laporan, dokumen, surat, file-file elektronik, dsb.
Read More
Published Selasa, November 13, 2012 by with 1 comment

SPK : Penjelasan Tentang Data Warehousing, Data Marts, OLAP dan Data Mining

a. Data Warehouse 

Data warehouse adalah sebuah sistem yang mengambil dan menggabungkan data secara periodik dari sistem sumber data ke penyimpanan data bentuk dimensional atau normal (Rainardi, 2008). Data warehouse merupakan penyimpanan data yang berorientasi objek, terintegrasi, mempunyai variant waktu, dan menyimpan data dalam bentuk nonvolatile sebagai pendukung manejemen dalam proses pengambilan keputusan (Han, 2006). Data warehouse menyatukan dan menggabungkan data dalam bentuk multidimensi. Pembangunan data warehouse meliputi pembersihan data, penyatuan data dan transformasi data dan dapat dilihat sebagai praproses yang penting untuk digunakan dalam data mining. 

b. Data Marts 

Bagian dari data warehouse yang mendukung kebutuhan pada tingkat departemen atau fungsi bisnis tertentu dalam perusahaan. Karakteristik yang membedakan data mart dan data warehouse adalah sebagai berikut (Connolly, Begg, Strachan 1999). 
  1. Data mart memfokuskan hanya pada kebutuhan-kebutuhan pemakai yang terkait dalam sebuah departemen atau fungsi bisnis. 
  2. Data mart biasanya tidak mengandung data operasional yang rinci seperti pada data warehouse. 
  3. Data mart hanya mengandung sedikit informasi dibandingkan dengan data warehouse. Data mart lebih mudah dipahami dan dinavigasi. 

c. OLAP 

OnLine Analytical Processing,suatu jenis pemrosesan yang memanipulasi dan menganalisa data bervolume besar dari berbagai perspektif (multidimensi). OLAP seringkali disebut analisis data multidimensi. 
  1. Data multidimensi adalah data yang dapat dimodelkan sebagai atribut dimensi dan atribut ukuran 
  2. Contoh atribut dimensi adalah nama barang dan warna barang, sedangkan contoh atribut ukuran adalah jumlah barang 

Kemampuan OLAP 

  1. Konsolidasi melibatkan pengelompokan data. Sebagai contoh kantor-kantor cabang dapat dikelompokkan menurut kota atau bahkan propinsi. Transaksi penjualan dapat ditinjau menurut tahun, triwulan, bulan, dan sebagainya. Kadangkala istilah rollup digunakan untuk menyatakan konsolidasi 
  2. Drill-down adalah suatu bentuk yang merupakan kebalikan dari konsolidasi, yang memungkinkan data yang ringkas dijabarkan menjadi data yang lebih detail. 
  3. Slicing and dicing (atau dikenal dengan istilah pivoting) menjabarkan pada kemampuan untuk melihat data dari berbagai sudut pandang. 

d. Data Mining 

Data mining merupakan proses untuk menggali pengetahuan dan informasi baru dari data yang berjumlah banyak pada data warehouse, dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelegence), statistik dan matematika. Data mining merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara data dan pemakainya.
Read More

Sabtu, 10 November 2012

Published Sabtu, November 10, 2012 by with 1 comment

SPK : Komponen‐komponen Sistem Pendukung Keputusan dan Skema DSS

Komponen‐komponen Sistem Pendukung Keputusan: 

1. Data Management System 

Segala aktivitas yang berhubungan dengan pengambilan, penyimpanan dan pengaturan data- data yang relevan dengan konteks keputusan yang akan diambil. Selain itu, komponen ini juga menyediakan berbagai fungsi keamanan, prosedur integritas data, dan administrasi data secara umum yang berkaitan dengan SPK. Berbagai tugas ini dilakukan dalam data management system beserta beberapa sub sistemnya yang diantaranya meliputi database, database management system, repository data, dan fasilitas query data. 

2. Model Management System 

Sistem ini menampilkan aktivitas pengambilan, penyimpanan dan pengaturan data dengan berbagai model kuantitatif, yang menyediakan kemampuan analitis untuk SPK. 

3. Knowledge Base 

Aktivitas yang berkaitan dengan pengenalan masalah, dan menghasilkan solusi final maupun sementara, hal‐hal yang berkaitan dengan manajemen proses pemecahan masalah merupakan inti dari komponen ini. Knowledge base merupakan “otak” dari kelima komponen SPK. Data dan model diolah untuk kemudian hasilnya menjadi bahan pertimbangan bagi user dalam mengambil keputusan. 

4. User Interface 

Adalah jalur penghubung antara sistem dengan user, sehingga komponen‐ komponen sistem SPK dapat diakses dan dimanipulasi dengan mudah oleh user untuk memberikan dukungan pada pengambilan keputusan. Kemudahan penggunaan dan komunikasi antar user dan SPK pada dasarnya merupakan ukuran keberhasilan penggunaan SPK itu sendiri. 

5. User(s) 

Desain, implementasi dan pemanfaatan SPK tidak akan efektif jika tidak disertai peran pengguna. Kemampuan, ketrampilan, motivasi, dan pengetahuan pengguna sebagai pengatur SPK, akan menentukan efektivitas dari penggunaan SPK.

Skema DSS

Gambar Skematik DSS
Gambar Skematik DSS

Read More
Published Sabtu, November 10, 2012 by with 0 comment

SPK : Sistem dan Lingkungan (Perbedaan Lingkungan Terbuka dan Tertutup


Sistem adalah kumpulan dari obyek-obyek seperti orang, resources, konsep, dan prosedur yang ditujukan untuk melakukan fungsi tertentu atau memenuhi suatu tujuan. 


Environment/lingkungan dari sistem terdiri dari pelbagai elemen yang terletak di luar input, output, atau pun proses. Namun, mereka dapat mempengaruhi kinerja dan tujuan sistem. Bila suatu elemen memiliki hubungan dengan tujuan sistem serta pengambil keputusan secara signifikan tak mungkin memanipulasi elemen ini, maka elemen tersebut harus dimasukkan sebagai bagian dari environment. Contoh: sosial, politik, hukum, aspek fisik, dan ekonomi.  

Sistem dan lingkungannya: 

Gambar sistem dan lingkungan.

Sistem terbuka (Open System) sangat tergantung pada lingkungannya. Sistem ini menerima input (informasi, energi, material) dari lingkungannya dan bisa juga memberikan outputnya kembali ke lingkungan tersebut. 

Perbedaan Sistem terbuka dan Sistem tertutup

Sistem tertutup (closed system) adalah sistem yang tidak bertukar materi, informasi, atau energi dengan  lingkungan, dengan kata lain sistem ini tidak berinteraksi dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya reaksi kimia dalam tabung yang terisolasi. Sedangkan sistem terbuka (open system) adalah sistem yang berhubungan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem perusahaan dagang.



Read More
Published Sabtu, November 10, 2012 by with 1 comment

SPK : Keputusan dan Pengambilan Keputusan (Pengertian, Fase-Fase dan Proses Pengambilan Kepurtusan)

PENDAHULUAN
(Keputusan dan Pengambilan Keputusan)

Pengertian Keputusan

Terdapat beberapa pengertian keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :

(1) Menurut Ralp C. Davis

Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.

(2) Menurut Mary Follet

Keputusan adalah suatu hukum atau sebagai hukum situasi.

Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewengan dari hukum situasi.

(3) Menurut James A.F. Stoner

Keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu :
  1. Ada pilihan dasar logika atau pertimbangan.
  2. Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik.
  3. Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.

(4) Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudirjo,SH.

Keputusan adalah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.

Pengertian Pengambilan Keputusan

Terdapat beberapa pengertian pengambilan keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :

(1) Menurut George R. Terry

Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.

(2) Menurut S.P. Siagian

Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

(3) Menurut James A.F. Stoner

Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah

Proses Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan merupakan tahap-tahap yang harus dilalui atau digunakan untuk membuat keputusan. Tahap-tahap ini merupakan kerangka dasar, sehingga setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa sub tahap (disebut langkah) yang lebih khusus/spesifik dan lebih operasional.

Secara umum, proses pengambilan keputusan terdiri atas tiga tahap, yaitu sebagai berikut :

(1) Penemuan Masalah

Tahap ini merupakan tahap untuk mendefinisikan masalah dengan jelas, sehingga perbedaan antara masalah dan bukan masalah (misalnya isu) menjadi jelas.

(2) Pemecahan Masalah

Tahap ini merupakan tahap penyelesaian terhadap masalah yang sudah ada atau sudah jelas. Langkah-langkah yang diambil adalah sebagai berikut :

Identifikasi alterntif-alternatif keputusan untuk memecahkan masalah

Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa-peristiwa di masa datang (state of nature)

Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya berbentuk tabel hasil (pay off table).

Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan

(3) Pengambilan Keputusan

Keputusan yang diambil adalah berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada, seperti kondisi pasti, kondisi beresiko, kondisi tidak pasti, dan kondisi konflik.

Terdapat beberapa pendapat para ahli tentang proses pengambilan keputusan, yang dapat dijadikan bandingan dengan pendapat di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :


(1) Menurut Simon (1960)

Simon (1960) mengajukan model yang menggambarkan proses pengambilan keputusan. Proses ini terdiri atas tiga fase, yaitu :

1. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.

2. Design
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi.

3. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.

Ketiga langkah proses pengambilan keputusan yang telah disampaikan oleh Simon (1960) dapat digambarkan sebagai berikut :

Fase Proses Pengambilan Keputusan

Gambar 1.1 Fase Proses Pengambilan Keputusan

Meskipun implementasi termasuk tahap ketiga, namun ada beberapa pihak berpendapat bahwa tahap ini perlu dipandang sebagai bagian yang terpisah guna menggambarkan hubungan antar fase secara lebih komprehensif. Dalam hal ini, Model Simon juga menggambarkan kontribusi Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan Ilmu Manajemen/Operations Research (IM/OR) terhadap proses pengambilan keputusan.

Dari gambar dan deskripsi di atas, jelas bahwa Pengolahan Data Elektronik (PDE) dan SIM mempunyai kontribusi dalam fase Intelligence, sedangkan IM/OR berperan penting dalam fase Choice. Tidak tampak pendukung yang berarti pada tahap design.

(2) Menurut Richard I. Levin, dkk

Menurut Richard, et., all. Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :

1. Observasi
Tahap ini berupa (aktivitas proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi, dan riset yang dapat menjadi informasi dan data penunjang.

2. Analisis dan Pengenalan Masalah
Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) penentuan penggunaan, penentuan tujuan, dan penentuan batasan-batasan yang dapat menjadi pedoman atau petunjuk yang jelas untuk mencari pemecahan yang dibutuhkan.

3. Pengembangan Model
Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) peralatan pengambilan keputusan antar hubungan model matematik, riset yang dapat menjadi (output proses) model yang berfungsi di bawah batasan lingkungan yang telah ditetapkan.

4. Memilih Data Masukan yang Sesuai
Tahap ini dapat berupa data internal dan eksternal, kenyataan, pendapat, serta data bank komputer yang dapat menjadi (output process) input yang memadai untuk mengerjakan dan menguji model yang digunakan.

5. Perumusan dan Pengujian
Tahap ini berupa pengujian, batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi pemecahan yang membantu pencapaian tujuan.

6. Penerapan Pemecahan
Tahap ini berupa pembahasan perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen, serta penjelasan yang menjadi pemahaman manajemen untuk menunjang model operasi dalam jangka yang lebih panjang.

(3) Menurut Sir Francis Bacon

Menurut Sir Francis Bacon Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :

1. Merumuskan/Mendefiniskan Masalah
Tahap ini merupakan usaha untuk mencari permasalahan yang sebenarnya

2. Pengumpulan Informasi yang Relevan
Tahap ini merupakan pencarian faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga dapat diketahui penyebab timbulnya masalah

3. Mencari Alternatif Tindakan
Tahap ini merupakan pencarian kemungkinan yang dapat ditempuh berdasarkan data dan permasalahan yang ada

4. Analisis Alternatif
Tahap ini merupakan analisis terhadap setiap alternatif menurut kriteria tertentu yang sifatnya kualitatif atau kuantitatif

5. Memilih Alternatif Terbaik
Tahap ini merupakan pemilihan alternatif terbaik yang dilakukan atas kriteria dan skala prioritas tertentu

6. Melaksanakan Keputusan dan Evaluasi Hasil
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya tindakan ini dituangkan ke dalam rencana tindakan. Evaluasi hasil memberikan masukan/umpan balik yang bergunan untuk memperbaiki suatu keputusan atau mengubah tujuan semula karena telah terjadi perubahan-perubahan.

(4) Menurut Prof.Dr.S.Prajudi Atmosudirjo

Menurut Prof.Dr.S.Prajudi Atmosudirjo Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 5 tahap, yaitu sebagai berikut :

Seseorang mula-mula harus menyadari dan menempatkan diri sebagai pimpinan dalam organisai dan bertanggung jawab sebagai pimpinan organisasi serta harus memutuskan sesuatu jika dalam organisasi tersebut muncul masalah.

Masalah yang dihadapi, terlebih dahulu harus ditelaah, mengingat masalah tersebut memiliki macam-macam sifat, bentuk dan kompleksitasnya.

Setelah ditelaah, kemudian harus dianalisis situasi yang mempengaruhi organisasi dan masalahnya.

Menelaah keputusan yang dibuatnya, terutama yang ditelaah adalah alternatif-alternatif yang dikemukakan dengan konsekuensi masing-masing untuk kemudia dipilih satu di antara alternatif-alternatif tersebut yang dianggap paling tepat

Setelah keputusan diambil, kemudian keputusan itu dilaksanakan. Keberhasilannya tergantung pada jiwa dan manajemen dari kepemimpinan.

Pengambilan Keputusan Individu

Robin (1991) mengemukakan model-model pengambilan keputusan individual, dengan pendekatan contongency (model pengambilan keputusan yang dipilih dan diguanakan sesuai dengan situasi tertentu, antara lain sebagai berikut :

(1) The Satisficing Model

Esensi dari the satisficing model, pada saat dihadapkan pada masalah kompleks, pengambil keputusan berusaha menyederhanakan masalah-masalah pelik sampai pada tingkat dimana dia siap untuk memahaminya. Dalam model ini pembatasan proses pemikiran diarahkan pada pengambilan keputusan dengan bounded rationality (rasionalitas terbatas), yaitu proses penyederhanaan model dengan mengambil inti masalah yang paling esensial tanpa melibatkan seluruh permasalahan yang konkrit

Rasionalitas terbatas adalah batas-batas pemikiran yang memaksa orang membatasi pandangan mereka atas masalah dan situasi. Pemikiran itu terbatas, karena pikiran manusia tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan dan mengolah informasi yang bertumpuk. Bagi para pengambil keputusan, daripada mempertimbangkan enam atau delapan alternatif, lebih baik cukup bekerja dengan dua atau tiga alternatif untuk mencegah kekacauan. Pada dasarnya, manusia sudah berpikir logis dan rasional, tetapi dalam batas-batas yang sempit.

Langkah-langkah model pengambilan keputusan ini (the satisficing model) adalah sebagai berikut :
  1. Penetapan tujuan pengambilan keputusan berkaitan dengan adanya masalah tertentu
  2. Menyederhanakan masalah
  3. Penetapan standar minimum dari serangkaian kriteria keputusan
  4. Mengidentifikasi serangkaian alternatif yang dibatasi
  5. Menganalisis dan membandingkan setiap alternatif, apakah memenuhi kendala, lebih besar atau sama dengan standar minimum dari serangkaian keputusan
  6. Apakah alternatif yang memenuhi syarat itu ada ?
  7. Jika ya, pilih salah satu alternatif yang dianggap terbaik
  8. Jika tidak, dilakukan kembali pencarian alternatif seperti pada langkah kelima

The Satisficing Model

Gambar 1.2 The Satisficing Model (Robbins, 1991)

(2) The Optimizing Decision Making Model

Dalam model ini, decesion maker yang penuh keyakinan berusaha menyusun alternatif-alternatif, memperhitungkan untung rugi dari setiap alternatif itu terhadap tujuan organisasi. Setelah itu, diperkirakan kemungkinan timbulnya bermacam-macam kerjadian di kemudian hari, mempertimbangkan dampak dari kejadian-kejadian itu terhadap alternatif-alternatif yang telah dirumuskan, dan menyusun urut-urutannya secara sistematis sesuai prioritas. Barulah dibuat keputusan yang dianggap sudah optimal karena telah memperhitungkan semua faktor yang berkaitan dengan keputusan tersebut.

Model ini menggambarkan bagaimana individu harus memaksimalkan hasil dari keputusan yang diambilnya. Lima tahap/langkah yang harus diikuti, baik secara implisit maupun eksplisit dalam proses keputusan menurut model ini, yaitu :
  1. Tegaskan kebutuhan untuk suatu keputusan
  2. Identifikasi kriteria keputusan
  3. Alokasi bobot nilai pada kriteria
  4. Kembangkan berbagai alternatif
  5. Evaluasi alternatif-alternatif tersebut di atas
  6. Pilih alternatif terbaik

(3) The Implicit Favorite Model

Model ini dirancang dalam kaitan dengan keputusan kompleks dan tidak rutin. Model ini menyangkut proses penyederhanaan masalah yang kompleks oleh individu pembuat keputusan. Bedanya dengan satisficing model, bahwa model ini tidak memasuki tahap pengambilan keputusan melalui pengevaluasian alternatif yang cukup sulit karena perlu rasional dan obyektif.

The Implicit Favorite Model

Gambar 1.3 The Implicit Favorite Model (Robbins, 1991)

Dari gambar di atas, dapat dijelaskan langkah-langkah dari model ini, yaitu sebagai berikut :
  1. Menentukan kebutuhan untuk mengambil keputusan karena ada masalah
  2. Mengidentifikasi alternatif dan langsung menetapkan pilihan satu alternatif menurut preferensinya
  3. Mengidentifikasi alternatif lain, kemudian dipilih lagi satu alternatif lain sebagai pembanding untuk mengukuhkan alternatif favorit.
  4. Memilih alternatif yang menjadi idaman pengambil keputusan.

(4) The Intuitive Model

The intuitive decesion making didefinisikan sebagai suatu proses bawah sadar/tidak sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi. Model ini tidak berarti sama sekali dilaksanakan tanpa analisis rasional. Irasional dan rasional saling melengkapi dalam proses keputusan. Terdapat dua pendekatan dalam menggunakan model ini, yaitu :

1. A front end approach
Pengambil keputusan mencoba untuk menghindari menganalisis masalah secara sistematis. Di sini intuisi diberi kekuasaan penuh untuk mengembangkan suatu gagasan yang mencoba untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa. Jadi keputusan tidak dibangun dari data yang lalu.

2. A back end approach
Pengambilan keputusan menggunakan intuisi dengan bersandar pad analisis, rasional, untuk mengidentifikan dan mengalikasi bobot nilai kriteria. Seperti halnya untuk mengambang dan mengevalusi berbagai alterantif. Pada saat tahap ini sudah dilaksanakan, si pengambil keputusan beristirahat satu atau dua hari dari kegiatan keputusan ini, sebelum menentukan pilihan keputusan akhir (final).

Pengambilan Keputusan Kelompok

Menurut Bodily (1985) model pengambilan keputusan kelompok dimulai dari bentuk metode yang sederhana berlanjut ke bentuk lebih canggih, yang paling baik dilaksanakan adalah dengan bantuan komputer. Bodily ingin menggambarkan bahwa apapun metodenya, pada dasarnya harus dapat memasukkan preferensi individu dan selanjutnya dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan kelompok.

Beberapa metode pengambilan keputusan kelompok yang dikemukakan oleh Bodily, anatara lain sebagai berikut :

(1) Pareto Optimality

Perangkat optimal pareto memilih satu alternatif yang tidak didominasi oleh alternatif lainnya. Kekurangan dari Pareto adalah adanya peringkat alternatif-alternatif yang lengkap yang belum diidentifikasi sehingga setiap individu memperoleh keuntungan dengan beralih dari alternatif non-Pareto ke alternatif optimal pareto, karena pilihan kelompok dimulai jika perangkat pareto telah diidentifikasi. Pendekatan yang lebih baik adalah terlebih dahulu mengidentifikasi alternatif optimal pareto. Jika ada beberapa alternatif pareto, dibutuhkan metode lain untuk memilih satu alternatif.

(2) The Nash Bargaining Solution

Salah satu cara memandang masalah keputusan kelompok adalah tawar menawar (bargaining). Nash merumuskan masalah tawar menawar ini sampai kepada solusinya. Hasilnya adalah para pelaku harus meningkatkan produk yang bermanfaat bagi mereka masing-masing (product individual utilities). Peranan solusi Nash tersebut adalah menghitung sejauh mana keuntungan relatif dari suatu tawar menawar dengan nilai dasar yang akan berlaku, bila tidak ada kesepakatan. Pendekatan Nash didasarkan pada pengertian bersaing dari pembuat keputusan kelompok dan solusi equilibrium terhadap masalah tawar menawar. Dampak ancaman dari masing-masing pelaku ikut dipertimbangkan. Masing-masing individu mencari kebaikan untuk kepentingan diri sendiri dan atau kelompoknya.

Pendekatan Pengambilan Keputusan

Berikut ini disajikan beberapa pendekatan dalam pengambilan keputusan, dengan uraian sebagai berikut :

(1) Rasional Analitis

Pengambil keputusan rasional analitis mempertimbangkan semua alternatif dengan segala akibat dari pilihan yang diambilnya, menyusun segala akibat dan memperlihatkan dan memperhatikan skala pilihan (scale of preference) yang pasti, dan memilih alternatif yang memberikan hasil maksimum. Pengambilan keputusan secara rasional analitis menurut Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) dapat digambarkan sebagai berikut :

Diagram Pengambilan Keputusan dengan Rational Analysis

Gambar 1.4 Diagram Pengambilan Keputusan dengan Rational Analysis

(2) Intuitif Emosional

Pengambil keputusan dengan intuitif emosional menyukai kebiasaan dan pengalaman, perasaan yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri dengan menggunakan proses alam bawah sadar. Proses ini dapat didorong oleh naluri, orientasi kreatif, dan konfrontasi kreatif. Mereka yang menentang pendekatan ini mengemukakan bahwa cara ini tidak secara efektif menggunakan semua sarana yang ada bagi keputusan modern. 

Model pengambil keputusan yang menggunakan intuisinya seringkali dikritik sebagi immoral. Kritik yang sering dilontarkan terhadap pengambilan keputusan dengan intuisi adalah karena kurang mengadakan analisis yang terkendali maka perhatian hanya ditujukan pada beberapa fakta dan melupakan banyak elemen penting. Dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan intuisi tidak banyak tergantung pada fakta yang lengkap. Model pengambilan keputusan dengan intuisi menurut Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) dapat digambarkan sebagai berikut :

Diagram Pengambilan Keputusan dengan Intuitif Emosional

Gambar 1.5 Diagram Pengambilan Keputusan dengan Intuitif Emosional

Read More